Minggu, 11 Januari 2015

My Naughty Boy 5

*ganti summary* : Dia namja yang cantik, tapi kelakuannya selalu membuat pusing orang lain. Sifatnya manja tapi hobinya membuat kerusuhan hingga akhirnya kekasih tampannya memberinya pelajaran penting yang akan membuatnya sadar

Chapter : 5

LAST CHAPTER

Siwon menatap bingung dua orang yang ada dihadapannya kini, dia bingung mau melakukan apa tapi tidak mungkin kan dia langsung kabur begitu saja, gengsinya terlalu tinggi untuk itu. Tadi dia bertamu baik-baik, maka dia juga harus pamit dengan baik-baik.

Namun sepertinya hal ini masih kurang membuat Jaejoong puas, terbukti dengan berbondong bondongnya para maid keluarga Jung yang tak bisa dibilang sedikit itu menuju ke arah mereka bertiga sekarang. Seringaian Jaejoong semakin terlihat.

'Salah siapa berani mengganggu Joongie' batin Jaejoong.

Siwon semakin merasa bingung, kesal, dan tak tahu harus melakukan apa. Di tambah lagi Yunho yang kini menatap dirinya dengan intens. Sepertinya Yunho mulai sadar kalau ada yang tidak beres dengan Siwon, kenapa Ia tidak segera memulai acara senam hari ini.

"Kenapa tak dimulai Siwon~ssi?" tanya Yunho yang tak bisa menunggu lebih lama lagi.

"Emm, sebentar, tapi ada yang harus aku jelaskan" kata Siwon.

"Jelaskan apa? Jangan bilang kalau kau tak bisa melatih senam hari ini, sangat tidak profesional sekali" kata Jaejoong.

"Bukan itu, tapi-"

"Cepatlah Siwon~ssi" kata Jaejoong yang kembali menginterupsinya.

"Eh tunggu dulu, kau mau melatih senam dengan pakaian seperti itu Siwon~ssi?" tanya Yunho yang nampak baru sadar akan penampilan Siwon.

"Aku bukan pelatih senam" kata Siwon.

"Jangan seperti itu lah Siwon~ssi, padahal aku sudah membayarmu kemarin" kata Jaejoong.

"Membayar? Sejak kapan-"

"Kalau begitu kembalikan uang Joongie" kata Jaejoong pura pura ngambek.

"Loh, sebenarnya bagaimana sih ini, siapa yang benar?" tanya Yunho yang benar benar sudah kebingungan.

"Yunnie, dia pasti pura pura" kata Jaejoong sambil memeluk erat Yunho.

"Sudah kubilang aku bukan pelatih senam" bentak Siwon kemudian.

"Tapi potonganmu seperti para pelatih senam Siwon~ssi" kata Jaejoong sambil memperhatikan Siwon. Mungkin penampilan Siwon hari ini tidak bisa juga dibilang seperti pelatih senam, toh Jaejoong bilang seperti itu untuk membuat Siwon kesal saja.

Siwon memutar matanya malas, kalau tahu begini Ia tak akan pernah mau datang ke rumah Jaejoong. Dia mulai merasa menyesal karena harus menyukai namja yang sekarang nampak menyeringai ke arahnya itu. Ho, sepertinya Jaejoong sangat menikmati mengerjai Siwon kali ini.

"Jaejoong~ah, kenapa kau bilang kalau aku pelatih senam?" kata Siwon.

"Kau kan memang pelatih senamku Siwon~ssi" kata Jaejoong yang masih dipelukan Yunho.

"Kau cocok sebagai pelatih senam apalagi potonganmu memang terlihat pas untuk itu, beda dengan Yunnieku, dia sangat manly dengan postur tubuh yang tak berlebihan" kata Jaejoong lagi sambil menyeringai.

"Cukup!" kata Siwon.

"Kalau kau memang tak menyukaiku tak perlu lakukan ini padaku, aku pergi sekarang" kata Siwon dengan kesalnya.

Huh, pelatih senam, mana ada pelatih senam yang setampan aku ini dan lagi kenapa dia membanding bandingkan aku dengan namja itu, batin Siwon.

"Oh ya, anggap saja kita tak pernah bertemu" kata Siwon lagi lalu benar benar pergi dari sana.

***

"Joongie, kau tak sedang mengerjaiku kan?" tanya Yunho.

"Ani, malahan yang sedang Joongie kerjai itu Siwon~ssi, dia sudah bera-"

"Cukup Joongie, kau sudah membuat orang lain menjadi bahan lelucon, itu tidak baik" kata Yunho.

"Tapi-"

"Tidak ada tapi tapian Boo, sekarang aku antar kau pulang" kata Yunho lalu segera naik ke kamarnya.

Jaejoong kembali merengut, lagi lagi Yunho marah padanya. Padahal kan Ia hanya ingin menjelaskan kalau Ia sengaja mengerjai Siwon karena namja itu sudah berani mengganggunya. Dengan kesal Ia segera menyusul Yunho ke kamarnya dan memberesi barang barangnya.

Mereka berdua sudah berada di dalam mobil sekarang, Jaejoong nampak diam seolah menunjukkan kalau dia kesal karena tak biasanya Yunho tak mau mendengarkan penjelasannya. Bahkan sampai sudah hampir setengah perjalanan pun mereka nampak saling cuek, hingga akhirnya Jaejoong tak tahan lagi.

"Berhenti di sini" kata Jaejoong.

"Wae? Rumahmu masih jauh Boo" kata Yunho.

"Pokoknya Joongie mau berhenti di sini saja"

"Tapi-"

"Aku bilang berhenti ya berhenti" bentak Jaejoong.

"Baik" kata Yunho yang langsung menepikan mobilnya di samping rumah kosong.

Jaejoong hendak membuka pintu mobil Yunho tapi namja tampan itu menghalanginya.

"Joongie, tidak bisakah kau mengertiku? Tidak bisakah kau rubah semua kelakuanmu, kalau kau seperti ini terus bisa saja orang orang tersayangmu yang akan imbasnya, apa kau mau ak-"

"Aku tak mau dengar apa apa lagi Yunnie, ternyata Yunnie tak seperti yang Joongie pikirkan, Yunnie tak pernah sayang sama Joongie"

"Joongie-"

Jaejoong segera turun dan menutup pintu mobil Yunho dengan keras. Yunho pun ikut turun dan mendekati Jaejoong.

"Pergi dari hadapan Joongie" kata Jaejoong dengan keras.

"Tidak" kata Yunho.

"JUNG YUNHO! Pergi dari hadapanku sekarang" bentak Jaejoong.

Yunho diam raut wajahnya menunjukkan kalau dia sangat kecewa dengan apa yang Jaejoong katakan barusan.

"Baik, aku pergi" kata Yunho lalu segera kembali ke mobilnya dan segera melajukannya menjauh dari Jaejoong.

Jaejoong hanya diam melihatnya tapi kemudian dia merasa ada yang aneh, sepertinya mereka tak lewat jalan yang biasanya. Walau Jaejoong tahu daerah ini tapi tetap saja Ia kurang familiar karena memang Ia jarang lewat di sini.

Jaejoong kini mulai menyesali keputusannya. Dia merutuki dirinya sendiri karena terlalu mudah mengambil keputusan di saat emosi seperti ini. Hingga malah pilihan yang buruk yang akhirnya harus Ia jalani sekarang. Jaejoong berjalan hati hati, dia harus waspada sekarang, karena jalan yang Ia lalui ini terkenal sepi dan banyak anak dari berbagai sekolah berkumpul di sini, makanya hampir tak ada orang yang berani lewat di sini.

"Aish sudahlah, lagipula aku pintar bela diri" kata Jaejoong.

"Ck Yunnie benar benar sudah tak sayang padaku, berani sekali dia meninggalkan Joongie di jalan seperti ini" gerutu Jaejoong sambil menendang kerikil kerikil kecil yang ada di hadapannya.

Tuk

"Awww" pekik Jaejoong lirih ketika merasakan ada sesuatu yang mengenai kepala belakangnya.

Dengan cepat Ia segera berbalik dan melihat 4 orang remaja yang cukup dikenalnya itu berdiri dengan membawa berbagai macam alat tawuran, salah satunya adalah tongkat pemukul baseball.

"Kalian lagi" kata Jaejoong malas.

"Kenapa sendirian kitty" kata salah seorang dari mereka.

"Ck berani sekali kau memanggilku kitty" kata Jaejoong.

"Ayo kita berkelahi kalau begitu" kata namja lainnya lagi.

"Siapa takut" jawab Jaejoong.

"Tapi apa kau tidak takut dikeluarkan dari sekolah Kim Jaejoong?"

"Untuk apa takut mereka juga tidak akan berani mengeluarkanku" kata Jaejoong.

"Sombong sekali kau, setelah membuat kami dikeluarkan dari sekolah apa kau pikir kami akan diam saja, lihat saja Kim Jaejoong kami akan membalasmu"

"Tak usah banyak bicara, cepat lawan aku"

4 remaja yang kira kira berusia sama dengan Jaejoong itu saling berpandangan lalu mengangguk. Sepertinya mereka sudah merencanakan sesuatu. Jaejoong nampak sudah siap dengan kuda kudanya, matanya terus mengawasi ke 4 anak itu. Bersiap kalau ada serangan mendadak dari mereka.

"Kurasa kau harus melihat ini" kata salah satu dari mereka lalu bersiul seperti memanggil seseorang.

Tak lama Jaejoong mendengar suara riuh dari balik tubuhnya, suara orang merintih lalu suara beberapa orang tertawa dengan lantangnya.

"Balik tubuhmu Kim Jaejoong" kata salah satu anak itu.

"Kau tak akan bisa mengalihkan perhatianku Lee Joon" kata Jaejoong.

"Ck kau yakin tak mau melihat siapa orang yang hampir mati itu" kata namja yang bernama Lee Joon itu.
Jaejoong masih bertahan pada posisinya, dia takut kalau ini hanyalah salah satu cara Joon dan kawan kawannya untuk mengalihkan perhatiannya. Tapi tak dapat dipungkiri sebenarnya Jaejoong cukup penasaran dengan apa yang dimaksud Joon barusan.

"Hei Jonghyun, buat namja itu bicara" kata Joon lagi.

"Ne, hei Jung Yunho bicaralah"

"Aigoo" kata salah seorang di samping Joon.

Lee Joon menepuk dahinya, kenapa juga harus disebutkan namanya, kan jadi tidak surprise lagi, pikir Joon. Tapi beda dengan Jaejoong, ketika mendengar nama Jung Yunho, Ia langsung berbalik dan matanya mendelik sempurna karena sekarang Ia melihat Yunho, kekasihnya tengah di papah oleh 2 orang namja yang tak dikenalnya wajahnya nampak babak belur. Bahkan Ia semakin terkejut ketika melihat ada noda besar darah di daerah perut Yunho.

"Apa yang kalian lakukan padanya" kata Jaejoong.

"Kami hanya bersenang senang dengannya Kim Jae- aah Jung Jaejoong" kata Joon memanas manasi.

"Kalian akan mati ditanganku" kata Jaejoong dengan keras.

"Kau lakukan itu maka kekasih tampanmu itu juga akan mati ditangan mereka" kata Joon.

"YA!!! Joon, kau bilang kita tidak akan membunuh" sanggah Jonghyun ketika mendengar kata Joon kalau mereka yang akan membunuh Yunho.

"Ck, dasar bodoh, Joon kan hanya menggertak Jaejoong" kata Key dengan keras.

"YA!!! Kalian berdua diamlah" murka Joon setelah lagi lagi menepuk dahinya.

"Nah bagaimana Jung Jaejoong? Masih mau membunuhku?" tanya Joon.

"Kau" desis Jaejoong sambil kembali melihat ke arah Yunho.

"Apa maumu" kata Jaejoong.

"Kami hanya ingin balas dendam, tapi bukan padamu Jung Jaejoong, biar kekasih tampanmu itu yang akan menanggung balasannya" kata Joon.

Jaejoong terdiam, di saat seperti ini Ia jadi teringat kata kata Yunho tadi saat di mobil dan di sekolah.

'Apakah ini karena kesalahanku' batin Jaejoong.

'Yunnie mianhae' batin Jaejoong lagi.

"Kenapa diam Jung Jaejoong? Merasa menyesal? atau setidaknya merasa bersalah? Kami harap kau mendapat balasan yang setimpal dari apa yang sudah kau lakukan pada kami" kata Joon lagi.

"Joongie" suara lirih Yunho terdengar.

"Hei Joon, dia bicara" teriak Jonghyun.

"Aku tahu itu Jonghyun, jadi bisakah kau diam sekarang!" kata Joon dengan kesal.

"Diamlah Jonghyun, sejak tadi kau berisik sekali sih" kata Key.

"Kau juga sama Key, diam dan lihat drama yang akan terjadi setelah ini" kata Joon sambil menatap Jaejoong yang kini mengepalkan kedua tangannya marah. Tentu saja dia tidak suka jika ada orang yang berani macam macam dengannya apalagi menganggu orang yang dicintainya seperti ini. Tapi sekarang dia tak bisa apa apa, kalau dia bergerak dengan mencurigakan bisa saja nyawa Yunho yang akan jadi taruhannya. Tak dapat dipungkiri, pisau yang dibawa namja yang bernama Key itu cukup mengganggunya.

"Joongie" kata Yunho lagi.

"Yun" kata Jaejoong.

"Key Jonghyun, kita tinggalkan saja mereka, biarkan namja itu berpikir dan menyadari kesalahannya sendiri" kata Joon lagi lalu setelahnya berbalik dan meninggalkan mereka berdua. Begitu pula dengan Key dan Jonghyun.

Jaejoong segera menuju ke arah Yunho yang sudah terkapar di tanah.

"Yunnie, mianhae" kata Jaejoong.

Yunho tersenyum tipis sambil menatap Jaejoong.

"Ani, kau tidak salah Joongie" kata Yunho.

"Tapi karena Joongie sekarang Yunnie seperti ini, sebentar ne aku panggil ambulance" kata Jaejoong dengan air matanya yang mengalir deras sekarang.

"Tidak perlu Joongie, biar saja seperti ini, biar kau tahu kalau semua ucapanku itu benar"

"Yunnie tidak akan pergi kan, Joongie minta maaf kalau sudah menjadi sosok yang egois dan suka membuat onar, tapi Joongie mohon Yunnie jangan tinggalkan Joongie"

"Sudah terlambat Joongie, tapi aku harap pengorbananku ini tak sia sia, kuharap kau bisa menjadi sosok yang lebih baik lagi, saranghae" kata Yunho dengan tersenyum.

"Yunnie jangan tinggalkan Joongie, hiks" kata Jaejoong sambil memeluk Yunho dengan erat sekarang.

"Yunnie" panggil Jaejoong lagi.

"Yun" panggil Jaejoong pada Yunho yang kini sudah tak bergerak di pelukannya.

"Yunnie, kenapa tidur, bangun Yunnie, bangun" kata Jaejoong sambil menggoyang goyangkan tubuh Yunho.
"Hiks, Yunnie mianhae" kata Jaejoong.

"Yun- hupphhh"

Seseorang membekap mulut dan hidung Jaejoong dengan sebuah kain, kedua matanya ditutupi oleh sebuah tangan, tentu saja Jaejoong tak dapat berbuat banyak karena sekarang Yunho masih dipelukannya. Bau menyengat langsung masuk ke indera penciuman Jaejoong, hingga tak lama setelah itu kesadarannya menipis dan hilang sama sekali.

"Cepat angkat dia, angkat kakinya"

"Hei, dia cantik juga"

PLAK

"Dasar kau ini, cepat angkat, aku tak mau kalau sampai ketahuan orang"

"Iya iya, ish sakit sekali pukulanmu ini"

***

'Cinta itu bukan hanya sekedar saling melengkapi satu sama lain, tapi berani berkorban untuk orang yang dicintainya, tak peduli sebetapa menyakitkannya sebuah pengorbanan, tapi hasil akhirnya pasti akan selalu manis, ibarat kau makan sebuah cokelat murni, rasa pahit pasti akan langsung terasa, tapi disela sela itu akan ada rasa manis walau tak terlalu membantu. Seperti itulah cinta, pengorbanan itu pahit tapi pasti akan ada rasa manis yang hinggap'

"Eunggh" lenguhan singkat terdengar dari bibir Jaejoong. Doe eyesnya perlahan terbuka, cahaya yang begitu banyak langsung menerpanya ketika pertama kali mata beningnya membuka sempurna.

"Boo"

Nyawa Jaejoong rasanya langsung berkumpul ketika mendengar suara yang amat dikenalinya itu memanggilnya. Perlahan di tengoknya sosok yang berada di sampingnya kini. Matanya masih mengerjap ngerjap heran, otaknya masih belum bisa berpikir, tapi sosok di sampingnya ini benar benar sangat Ia kenal.

"Yu-"

"Syuutt, tak perlu bicara apa apa Boo" kata orang itu lagi.

Tak peduli rasa pusing yang masih menderanya, Jaejoong langsung merengkuh orang itu dalam peluknya. Tangis lirihnya kembali terdengar, hingga membuat orang yang dipeluknya itu mencoba untuk menenangkannya.

"Jangan tinggalkan Joongie Yunnie" kata Jaejoong sambil membenamkan wajahnya di dada Yunho.

Yunho? Bukankah tadi Jaejoong melihatnya sendiri bahwa Yunho tak lagi bergerak di pelukannya. Lalu bagaimana Ia bisa berada di sini, di dalam pelukan Jaejoong yang sangat erat.

"Aku tak akan pergi Boo, tapi aku akan benar benar pergi jika kau tak bisa merubah sikapmu" balas Yunho.
Jaejoong langsung melepas pelukannya, dilihatnya Yunho yang tersenyum dengan tulusnya.

"Yunnie, kau" kata Jaejoong.

"Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Jaejoong dengan bingungnya.

"Mianhae Boo, aku terpaksa melakukan ini padamu, walau tak sesuai dengan rencana" kata Yunho.

"Tapi-tapi, apa-aah, apa yang sebenarnya ter-terjadi" tanya Jaejoong.

"Aku sengaja membuat rencana ini untuk membuatmu sadar Joongie, dengan bantuan Changmin, kita menghubungi orang orang yang pernah kau sakiti dulu, pertama mereka memang memukuliku karena aku adalah kekasihmu, lihat kan wajahku jadi tak tampan lagi, tapi aku rela Joongie, biarkan mereka melampiaskan kemarahan mereka padaku, yang penting kau tak terluka"

Kedua tangan Jaejoong terangkat untuk menyentuh luka lebam yang ada di wajah Yunho. Hatinya berjengit sakit, apa sebesar ini pengorbanan Yunho untuknya, untuk membuat dirinya berubah. Bahkan rela dijadikan bahan pelampiasan oleh orang orang yang dulu pernah Ia sakiti. Jaejoong merasa malu, untuk apa status namjanya jika Ia hanya bisa menjadi seorang namja yang tak bertanggung jawab. Oh, hari ini akhirnya Jaejoong dapat menggunakan otaknya untuk berpikir.

"Untung ada Changmin yang bisa meredam emosi mereka, tapi tetap saja wajahku sudah babak belur, Changmin segera menjelaskan apa yang akan kami rencanakan untukmu, dan akhirnya mereka setuju, yaah walau hasil akhirnya sangat melenceng dari yang aku harapkan" kata Yunho lagi.

"Mereka terlalu banyak berimprovisasi dan kurasa sepertinya rencanaku tak berjalan bagus, tapi aku berharap kau bisa berubah setelah ini Joongie"

"Yunnie, Joongie minta maaf ne, tapi jangan lakukan itu lagi, Joongie benar benar tidak bisa kehilanganmu, melihatmu terluka begitu saja sudah membuat Joongie ingin menangis"

"Tidak akan, lagipula aku juga tidak bisa jauh darimu Joongie, eumm seharusnya rencana ini tak berhenti sampai di sini, tapi melihatmu tak sadarkan diri dan cara namja namja itu memperhatikanmu, aku jadi tak mau lagi melanjutkan rencana yang sudah melenceng jauh ini" kata Yunho.

"Bahkan rencana ini sudah hancur saat Siwon yang kau bilang sebagai pelatih senam itu ternyata adalah salah seorang yang kau kerjai, rencana yang harusnya akan aku mulai malam nanti, malah jadi tadi siang"

Jaejoong tersenyum mendengar cerita Yunho tentang rencananya. Lucu juga melihat namja tampan itu nampak antusias bercerita, sangat jarang Jaejoong melihat Yunho begitu bersemangatnya seperti sekarang ini.

"Umma meneleponku tadi saat kau masih pingsan, dia menceritakan tentang Choi Siwon, namja yang kau bilang pelatih senam itu, Umma bilang kau ingin mengerjainya karena dia mengganggumu, saat aku dengar itu, aku jadi tahu bahwa kau memang benar benar mencintaiku Joongie, mianhae ne sudah marah padamu"

"Apa marahmu tadi juga termasuk dalam rencanamu Yunnie?" tanya Jaejoong.

"Itu diluar rencana Joongie, kan sudah aku bilang rencanaku sudah hancur sejak awal, dan semakin hancur berkat namja namja bodoh itu" kata Yunho.

"Rencanamu tidak hancur Bear, karena aku sekarang sudah tahu bagaimana rasanya sempat kehilangan orang yang dicintai karena hal bodoh yang kulakukan dulu, aku ingin berubah dan menjadi namja yang bisa kau banggakan Yunnie, aku sudah jera Yun, aku takut kau akan menjadi korbannya lagi" kata Jaejoong.

Yunho tersenyum dan langsung memeluk Jaejoong dengan erat. Dia cukup senang mendengar apa yang keluar dari mulut Jaejoong baru saja. Hatinya menghangat dan perasaan cintanya semakin besar pada namja itu.

Jaejoong juga tersenyum, hatinya sangat lega karena Ia tak jadi kehilangan Yunhonya, namja yang sangat dicintainya. Jaejoong sadar kalau dirinya tak bisa hidup tanpa Yunho disampingnya. Karena dia ibarat sebuah kapal yang berlayar tak tentu arah dan Yunho adalah nahkoda yang akan siap sedia mengatur dengan benar kemana arah yang tepat.

"Kau selalu bisa aku banggakan Boo, tapi ada yang sangat ingin aku lakukan sekarang" kata Yunho. Jaejoong segera melepaskan pelukannya pada Yunho.

"Apa yang ingin kau lakukan Bear?" tanya Jaejoong.

"Memulai pelajaran session kedua untukmu Joongie" kata Yunho sambil menyeringai.

"Apa yang Yun- hupphh"

Bibir Yunho sudah mengunci rapat bibir Jaejoong hingga memotong kalimat yang akan diucapkan oleh Jaejoong. Jaejoong nampak diam saja dan menikmati ciuman panasnya dengan Yunho kini.

Tak berapa lama Yunho melepaskan pagutannya pada Jaejoong.

"Malam ini kau akan mendapat pelajaran yang lebih penting"

Jaejoong hanya tersenyum, dia tahu maksud dari perkataan Yunho itu. Bahkan diotaknya kini sudah dipenuhi dengan pikiran pikiran mesum yang sudah Ia pelajari dari Junsu.

"Saranghae Jung Jaejoong" kata Yunho lalu mulai mencium lagi bibir Jaejoong.

***

"Apa mereka akan melakukannya, aah aku tahu pasti mereka sudah melakukannya, eemm, iya aku yakin pasti mereka sudah melakukan itu, aaah tapi aku benar benar penasaran, Ya!!! Suie katakanlah sesuatu"

"Issh Kim Ryeowook, diamlah kau berisik sekali sejak tadi"

"Tapi benar kan kalau mereka sudah melakukannya"

"Aku tak tahu Kim Ryeowook, tapi menurutku sih mereka pasti melakukannya, untuk apa aku jauh jauh mengungsi ke tempatmu jika Yunho tak jadi melakukan itu dengan Jaejoong"

"Aah benar juga, aku tahu pasti Yunho sama mesumnya denganmu dulu kan Suie, eeh tapi sampai sekarang kau masih mesum tuh"

"Kim Ryeowook bisakah kau diam, sejak tadi kau cerewet sekali" kata Junsu yang mulai jengah mendengar ocehan dari Ryeowook.

"Ihh kenapa kau marah marah terus sih, kan yang aku katakan benar" kata Ryeowook.

"Ya aku tahu kata katamu benar tapi-"

"Naah berarti kau mengakui kalau kau adalah namja mesum Suie" kata Ryeowook dengan girangnya.

"Sepertinya aku tahu dari gen siapa sikap jahil Jaejoong" gerutu Junsu sambil menutup tubuhnya dengan selimut tebal.

"Yaah Suie jangan tidur dulu dong" kata Ryeowook sambil menggoyang goyangkan tubuh Junsu yang sudah tertutupi selimut itu.

"Berisik!" bentak Junsu.

Ryeowook merengut sebal karena ditinggal tidur oleh Junsu. Tapi toh akhirnya dia juga mulai menyelimuti dirinya dengan selimut, ikut menyusul Junsu tidur.

"Suie, Yunho pasti sama perkasanya dengan Yoochun kan, Joongie pasti akan puas"

"KYAAA!!! Bisakah kau tak membahas itu malam ini, aku mau tidur" bentak Junsu lagi, sedangkan Ryeowook Ia hanya tersenyum geli.

***

"Joon ada minuman tidak, aku haus dan lelah sekali" tanya Jonghyun.

"Ambil saja di kulkas, aku juga lelah tahu, kau kira tubuh Jaejoong tak berat" gerutu Joon.

"Lelah dari mana, kau kan hanya membopong Jaejoong, sedangkan aku harus memapah Yunho yang secara logika tubuhnya jauh lebih berat dari Jaejoong" gerutu Jonghyun sambil berlalu mengambil minum di kulkas.

"Wiih, sok pintar sekali pakai bilang logika segala" kata Joon.

"Kalian ini menggerutu terus" kata seorang namja tinggi yang duduk di kursi dekat Joon.

"Tak usah berkomentar lah Shim Changmin, kau kan tidak ikut membopong Jaejoong bahkan kau tak ada di sana kan tadi" kata Joon.

"Hei siapa bilang aku tak ada di sana, nih lihat" kata Changmin sambil menyodorkan sebuah handycam ke arah Joon.

"Hooo, kau berhasil merekamnya tadi Min, baguslah jadi tak sia sia aku membantumu dan Yunho" kata Joon sambil mengambil handycam itu dan melihatnya.

"Ck, sudah membuat Yunho hyung babak belur masih belum cukup kah" gerutu Changmin, tapi Joon malah asyik dengan handycamnya.

"Lihat, wajah Jaejoong terlihat sangat menggelikan" kata Joon sambil mengomentari video yang dia putar lewat handycam itu.

"Ternyata kau licik juga Shim Changmin, dengan ini kan Jaejoong tidak akan lagi berbuat onar, dan dengan ini juga aku bisa kembali ke sekolah" kata Joon setelah video itu selesai di putar.

"Hanya memanfaatkan kecerdasan otakku saja Joon, oh ya dimana kau menemukan dua orang bodoh yang memapah Yunho hyung tadi" kata Changmin.

"Aku dengar itu tiang listrik bodoh" kata Jonghyun.

"YA!!! Kau berani mengataiku bodoh" kata Changmin.

"Ih memang kau tiang listrik?" balas Jonghyun.

Changmin diam sambil mengepalkan kedua tangannya, kesal tentu saja. Baru kali ini dia dibodohi oleh orang yang jauh lebih bodoh darinya. Rasanya kejeniusan otaknya dianggap remeh oleh Jonghyun. Changmin sangat ingin menjitaknya sekarang, tapi kursi ini rasanya tak ingin melepaskan dirinya.

"Sudahlah Min, emm dia teman satu sekolahku dulu, sebelum aku dikeluarkan"

"Joon kau tahu dimana Key? Setelah tadi membopong Jaejoong ke rumah itu, aku tak melihatnya lagi" kata Jonghyun yang tiba tiba berada di samping Joon dan Changmin dengan wajah tanpa dosanya.

"Eh aku juga baru sadar kalau sejak tadi aku tak melihat Key" kata Joon.

"Mungkin dia pulang ke rumahnya, sudahlah tak perlu di pikirkan" kata Changmin dengan kesal.

"Benar juga, ya sudah, Jonghyun bikin mie sana aku lapar" kata Joon.

"Oh ne Joon" kata Jonghyun lalu segera menuju ke dapur.

"Issh denganku saja dia berani, awas saja kau Jonghyun" kata Changmin.

"Sudahlah Min, jangan kau kotori otak jeniusmu itu dengan memikirkan Jonghyun, namja itu memang kadang tak tahu diri" kata Joon sambil mendudukan dirinya di samping Changmin.

"Tapi tetap saja dia membuatku kesal, menyindirku tapi pura pura tak tahu apa-apa"

"Jonghyun itu memang unik" kata Joon sambil menepuk nepuk pundak Changmin.

***

"Akh Yunhh"

"Booo"

"Mereka hot sekali" lirih seorang namja dari balik lemari yang sedikit terbuka.

"Untung tadi aku bisa menyelinap masuk ke dalam lemari ini, ugh Key kau memang hebat" katanya lagi dengan lirih.

Hooo, jadi ternyata Key masih berada di dalam rumah Yunho dan berhasil bersembunyi di dalam lemari pakaian milik Yunho. Niatnya tadi sih cuma ingin melihat kelanjutan drama dari yang mereka mainkan, eeh dia malah melihat tontonan live seperti ini. Benar benar keberuntungan untuknya kan.

"Joon dan Jonghyun pasti akan terkejut jika ku perlihatkan video ini nanti" kata Key lagi dengan lirih setelah berhasil mereka adegan demi adegan yang Yunho dan Jaejoong lakukan barusan.

Aaah, sepertinya akan banyak hal yang bisa membungkam Jaejoong agar tak seenaknya lagi.

END

0 komentar:

Posting Komentar