*ganti summary* : Dia namja yang cantik, tapi kelakuannya selalu membuat pusing orang lain. Sifatnya manja tapi hobinya membuat kerusuhan hingga akhirnya kekasih tampannya memberinya pelajaran penting yang akan membuatnya sadar
Chapter : 2
"UMMA! APPA!" panggil Jaejoong dengan suaranya yang nyaring ketika memasuki mansion mewah milik keluarga Jung itu. Sambil kepalanya tengak tengok mencari dua sosok yang baru saja dipanggilnya itu.
Tak lama seorang yeoja cantik kira kira berumur 45 tahun itu keluar dari arah dapur dan langsung menyambut Jaejoong dengan senyum sumringah.
"Joongie" balasnya sambil memeluk JaeJoong dengan erat.
"Bogoshippo Umma" kata JaeJoong.
"Aissh padahal baru kemarin kau datang kemari Joongie" balasnya sambil tersenyum lebih cerah.
"Ah pokoknya setiap hari Joongie merindukanmu Suie Umma" kata JaeJoong kemudian.
"Aigoo kau manis sekali Joongie~ya, pantas saja beruang mesum itu mencintaimu" kata yeoja yang dipanggil JaeJoong 'Suie Umma' itu. Sebenarnya nama aslinya adalah Junsu dan Suie adalah nama kecilnya.
Ho, panggilan yang sangat manis kan, sayangnya hanya JaeJoong dan keluarganya saja yang boleh memanggilnya begitu. Kalau sampai ada yang berani memanggilnya dengan nama itu selain keluarganya dan JaeJoong, siap-siap saja dapat ceramah panjang dan lebar serta tak berujung darinya. Oh, dan jangan lupakan tatapan mata tajam dan menusuk darinya. Siapapun tidak akan tahan untuk melihatnya lebih dari 3 detik. Padahal wajahnya yang terlihat polos itu sama sekali tidak mendukung untuk aksi kejamnya.
"Siapa yang kau panggil mesum itu Umma?" kata Yunho sambil melirik datar Ummanya sendiri.
"Tentu saja kau, memang Umma punya anak lain lagi selain dirimu" jawab Junsu sambil tertawa sinis.
"Aku mesum kan turunan darimu juga Umma" kata Yunho yang tak mau kalah.
"Tentu saja, kalau Umma tak mesum mana mungkin kau lahir di dunia ini tuan Jung" balas Junsu dengan santainya.
"Berdebat dengan Umma tak pernah ada ujungnya, kajja Boo kita ke kamarku saja" ajak Yunho sambil menarik tangan JaeJoong menuju ke kamarnya di lantai atas.
"Hati-hati Jaejoong~ah, pulang pulang kau bisa berbadan dua nanti" kata Junsu dengan tawa cekikikan. Ia sangat suka menggoda Yunho ketika sedang bersama Jaejoong. Rasanya lucu saja ketika membuat anak satu satunya itu jadi uring uringan tak jelas.
"YAA! Umma! Jangan bicara sembarangan" balas Yunho tanpa menghentikan langkahnya. Sedangkan JaeJoong, wajahnya sudah memerah karena malu akan fantasinya yang sudah melebihi batas kewajaran itu. Oh, uri Jaejoong sudah tak lagi polos ternyata.
"Euuum Yunniieeehhh" panggil Jaejoong dengan manja ketika Yunho akan membuka pintu kamarnya.
Yunho terdiam dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintunya. Tapi dia tidak langsung melihat ke arah Jaejoong, karena dia tahu, sekali dia menengok akan ada sesuatu hal yang sangat ingin dia lakukan tapi tak bisa Ia lakukan. Tiba tiba tangan Jaejoong bergerilya di bahu Yunho lalu perlahan lahan maju ke depan, lebih tepatnya ke dada bidang miliknya.
Yunho sudah kewalahan untuk menahan dirinya sendiri, tapi dia harus bertahan. Dia tidak mau menodai namja kesayangannya ini sekarang. Tapi bagaimana jika Jaejoong sendiri yang seakan ingin menganggu kenyamanan beruang tidur ini. Apa dia bisa bertahan untuk tak segera menyeret Jaejoong ke dalam kamarnya.
"Yuunnniieeeh" kali ini Jaejoong mendesah memanggil nama Yunho.
Yunho semakin tak bisa menahan dirinya. Tangannya yang memegang tangan Jaejoong tadi dengan perlahan menelusuri tangan mulus milik Jaejoong itu. Semakin ke atas hingga mencapai puncak pundak Jaejoong. Tapi Yunho masih tidak mau melihat wajah Jaejoong, karena Ia takut akan melakukan yang lebih dari itu.
"Bear, kenapa tak memandangku?" tanya Jaejoong dengan suara yang dia buat se sexy mungkin.
Jaejoong semakin merapatkan tubuhnya ke arah Yunho bahkan Ia dapat merasakan sesuatu di bawah sana tengah terbangun. Senyum tipisnya kini berganti dengan seringaian.
"Yunnhhh" kata Jaejoong semakin merapat dan kini Ia berbisik di telinga Yunho.
"Eunggh" kali ini adalah suara Yunho. Dan lenguhan singkat itu sudah cukup menunjukkan kalau Yunho sudah benar benar menikmatinya.
"Yunnhh, kau tahu sejak tadi Umma melihat ke arah kita" kata Jaejoong dengan suara normal sekarang.
Reflek Yunho tersadar dari sensasi singkatnya itu. Dan perlahan memutar tubuhnya hingga melihat sang Umma tengah melihatnya dengan wajah mesum yang begitu kentara. Jaejoong segera menjauh dari tubuh Yunho dan meninggalkan namja yang setengah tanggung itu.
"Umma, Joongie menang ne, sekarang traktir Joongie es krim sesuai janji Umma" kata Jaejoong yang langsung membuat Yunho mendelik sempurna.
"Tenang saja Joongie, kajja sekarang kita pergi beli es krim, sekalian belanja" kata Junsu sambil melirik ke arah Yunho yang nampak menahan sesuatu.
"Kajjaaa" kata Jaejoong sambil menarik Umma Yunho itu untuk segera membeli apa yang sudah di janjikan beberapa waktu lalu.
"JUNG JAEJOONGG!" teriak Yunho yang kini sudah benar benar tanggung itu.
Mau tidak mau Yunho harus menuntaskannya dengan tangannya sendiri. Oooh, ini pertama kalinya Jaejoong menggodanya dan ternyata godaan itu untuk sebuah taruhan. Yunho benar benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Jaejoong.
"Namja itu, benar benar" gerutu Yunho sambil melesat masuk ke dalam kamarnya.
Ah, ternyata tak hanya orang lain saja yang dibuat pusing oleh Jaejoong. Bahkan kekasihnya sendiri pun Ia buat tanggung gara gara taruhan konyol yang Ia lakukan dengan Junsu. Dan yang lebih konyol lagi hadiah taruhan itu adalah es krim rasa baru di kedai es krim milik Shindong.
"Awas kau Boo, kau sudah membuat beruang yang sedang berhibernasi mengamuk, kau akan mendapat balasan yang setimpal" kata Yunho di sela sela kegiatannya kini.
Chapter : 2
"UMMA! APPA!" panggil Jaejoong dengan suaranya yang nyaring ketika memasuki mansion mewah milik keluarga Jung itu. Sambil kepalanya tengak tengok mencari dua sosok yang baru saja dipanggilnya itu.
Tak lama seorang yeoja cantik kira kira berumur 45 tahun itu keluar dari arah dapur dan langsung menyambut Jaejoong dengan senyum sumringah.
"Joongie" balasnya sambil memeluk JaeJoong dengan erat.
"Bogoshippo Umma" kata JaeJoong.
"Aissh padahal baru kemarin kau datang kemari Joongie" balasnya sambil tersenyum lebih cerah.
"Ah pokoknya setiap hari Joongie merindukanmu Suie Umma" kata JaeJoong kemudian.
"Aigoo kau manis sekali Joongie~ya, pantas saja beruang mesum itu mencintaimu" kata yeoja yang dipanggil JaeJoong 'Suie Umma' itu. Sebenarnya nama aslinya adalah Junsu dan Suie adalah nama kecilnya.
Ho, panggilan yang sangat manis kan, sayangnya hanya JaeJoong dan keluarganya saja yang boleh memanggilnya begitu. Kalau sampai ada yang berani memanggilnya dengan nama itu selain keluarganya dan JaeJoong, siap-siap saja dapat ceramah panjang dan lebar serta tak berujung darinya. Oh, dan jangan lupakan tatapan mata tajam dan menusuk darinya. Siapapun tidak akan tahan untuk melihatnya lebih dari 3 detik. Padahal wajahnya yang terlihat polos itu sama sekali tidak mendukung untuk aksi kejamnya.
"Siapa yang kau panggil mesum itu Umma?" kata Yunho sambil melirik datar Ummanya sendiri.
"Tentu saja kau, memang Umma punya anak lain lagi selain dirimu" jawab Junsu sambil tertawa sinis.
"Aku mesum kan turunan darimu juga Umma" kata Yunho yang tak mau kalah.
"Tentu saja, kalau Umma tak mesum mana mungkin kau lahir di dunia ini tuan Jung" balas Junsu dengan santainya.
"Berdebat dengan Umma tak pernah ada ujungnya, kajja Boo kita ke kamarku saja" ajak Yunho sambil menarik tangan JaeJoong menuju ke kamarnya di lantai atas.
"Hati-hati Jaejoong~ah, pulang pulang kau bisa berbadan dua nanti" kata Junsu dengan tawa cekikikan. Ia sangat suka menggoda Yunho ketika sedang bersama Jaejoong. Rasanya lucu saja ketika membuat anak satu satunya itu jadi uring uringan tak jelas.
"YAA! Umma! Jangan bicara sembarangan" balas Yunho tanpa menghentikan langkahnya. Sedangkan JaeJoong, wajahnya sudah memerah karena malu akan fantasinya yang sudah melebihi batas kewajaran itu. Oh, uri Jaejoong sudah tak lagi polos ternyata.
"Euuum Yunniieeehhh" panggil Jaejoong dengan manja ketika Yunho akan membuka pintu kamarnya.
Yunho terdiam dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintunya. Tapi dia tidak langsung melihat ke arah Jaejoong, karena dia tahu, sekali dia menengok akan ada sesuatu hal yang sangat ingin dia lakukan tapi tak bisa Ia lakukan. Tiba tiba tangan Jaejoong bergerilya di bahu Yunho lalu perlahan lahan maju ke depan, lebih tepatnya ke dada bidang miliknya.
Yunho sudah kewalahan untuk menahan dirinya sendiri, tapi dia harus bertahan. Dia tidak mau menodai namja kesayangannya ini sekarang. Tapi bagaimana jika Jaejoong sendiri yang seakan ingin menganggu kenyamanan beruang tidur ini. Apa dia bisa bertahan untuk tak segera menyeret Jaejoong ke dalam kamarnya.
"Yuunnniieeeh" kali ini Jaejoong mendesah memanggil nama Yunho.
Yunho semakin tak bisa menahan dirinya. Tangannya yang memegang tangan Jaejoong tadi dengan perlahan menelusuri tangan mulus milik Jaejoong itu. Semakin ke atas hingga mencapai puncak pundak Jaejoong. Tapi Yunho masih tidak mau melihat wajah Jaejoong, karena Ia takut akan melakukan yang lebih dari itu.
"Bear, kenapa tak memandangku?" tanya Jaejoong dengan suara yang dia buat se sexy mungkin.
Jaejoong semakin merapatkan tubuhnya ke arah Yunho bahkan Ia dapat merasakan sesuatu di bawah sana tengah terbangun. Senyum tipisnya kini berganti dengan seringaian.
"Yunnhhh" kata Jaejoong semakin merapat dan kini Ia berbisik di telinga Yunho.
"Eunggh" kali ini adalah suara Yunho. Dan lenguhan singkat itu sudah cukup menunjukkan kalau Yunho sudah benar benar menikmatinya.
"Yunnhh, kau tahu sejak tadi Umma melihat ke arah kita" kata Jaejoong dengan suara normal sekarang.
Reflek Yunho tersadar dari sensasi singkatnya itu. Dan perlahan memutar tubuhnya hingga melihat sang Umma tengah melihatnya dengan wajah mesum yang begitu kentara. Jaejoong segera menjauh dari tubuh Yunho dan meninggalkan namja yang setengah tanggung itu.
"Umma, Joongie menang ne, sekarang traktir Joongie es krim sesuai janji Umma" kata Jaejoong yang langsung membuat Yunho mendelik sempurna.
"Tenang saja Joongie, kajja sekarang kita pergi beli es krim, sekalian belanja" kata Junsu sambil melirik ke arah Yunho yang nampak menahan sesuatu.
"Kajjaaa" kata Jaejoong sambil menarik Umma Yunho itu untuk segera membeli apa yang sudah di janjikan beberapa waktu lalu.
"JUNG JAEJOONGG!" teriak Yunho yang kini sudah benar benar tanggung itu.
Mau tidak mau Yunho harus menuntaskannya dengan tangannya sendiri. Oooh, ini pertama kalinya Jaejoong menggodanya dan ternyata godaan itu untuk sebuah taruhan. Yunho benar benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Jaejoong.
"Namja itu, benar benar" gerutu Yunho sambil melesat masuk ke dalam kamarnya.
Ah, ternyata tak hanya orang lain saja yang dibuat pusing oleh Jaejoong. Bahkan kekasihnya sendiri pun Ia buat tanggung gara gara taruhan konyol yang Ia lakukan dengan Junsu. Dan yang lebih konyol lagi hadiah taruhan itu adalah es krim rasa baru di kedai es krim milik Shindong.
"Awas kau Boo, kau sudah membuat beruang yang sedang berhibernasi mengamuk, kau akan mendapat balasan yang setimpal" kata Yunho di sela sela kegiatannya kini.
***
Di sisi lain, tepatnya di sebuah kedai es krim yang nampak ramai itu, Jaejoong dan Junsu tengah berbincang sambil menunggu pesanan es krim spesialnya datang. Jelas itu es krim yang spesial kan, apa masih perlu di jelaskan bagaimana Jaejoong mendapatkan es krim rasa baru itu? Sepertinya tidak perlu.
"Umma" kata Jaejoong.
"Ne, wae Joongie?" jawab Junsu sambil menaruh ponselnya di meja.
Jaejoong menatap Junsu dengan wajah memerah seperti sedang malu, Junsu yang melihatnya hanya mengerutkan keningnya tak mengerti. Ada apa dengan Jaejoongnya? Pikir Junsu sambil mengamati gerak gerak Jaejoong.
"Permisi"
Interupsi dari salah satu pegawai kedai itu membuat Jaejoong malah semakin malu malu. Pelayan tadi segera meletakkan 1 nampan penuh es krim dan ke semua es krim itu milik Jaejoong, sedangkan Junsu, Ia memilih untuk memesan coklat panas. Pelayan tadi memperlambat gerakannya memindahkan es krim dari nampannya ke meja sambil terus curi curi pandang ke arah Jaejoong yang kini terus menatap pegawai tadi dengan tampang imutnya. Jelas, siapa yang tidak akan terpesona dengan wajah memerah Jaejoong serta imutnya wajahnya kini, apalagi si pelayan adalah seorang namja yang masih muda.
"Ehem" kata Junsu mengiterupsi.
"A-ah, silakan menikmati" kata pelayan tadi lalu segera berbalik meninggalkan meja Jaejong dan Junsu, tapi sebelumnya Ia berbalik untuk melihat Jaejoong lagi.
Dengan singkat Jaejoong mengedipkan sebelah matanya pada sang pelayan. Hingga membuat pelayan itu salah tingkah, sedangkan Jaejoong Ia hanya tersenyum senang. Tentu saja, Ia kan sangat hobi membuat kerusuhan, apalagi sekarang pelayan itu tengah dimarahi oleh manager kedai karena menyenggol pelanggan hingga es krimnya tumpah kemana mana.
Oh, kasihan sekali pelayan itu, seharusnya Jaejoong lah yang menerima makian itu.
"Joongie, tadi kau mau bicara apa?" tanya Junsu yang kembali fokus pada calon menantunya itu.
"Oh, eemm, Joongie malu menjelaskannya Umma" kata Jaejoong dengan wajahnya yang kembali memerah.
"Aigoo, kau suka sekali membuat Umma penasaran sih" kata Junsu sambil menyesap coklat panasnya.
"Eeem, Joongie hanya teringat dengan belalai gajah punya Yunnie tadi" kata Jaejoong.
"Belalai apa memangnya Joongie, Umma tak mengerti, memangnya Yunho punya gajah?" tanya Junsu sambil kembali mengangkat cangkir dan hendak meminumnya.
"Itu Umma, belalai yang sembunyi di dalam celana Yunnie, aaah, Joongie malu kalau mengingatnya habis besar sekali sih" kata Jaejoong dengan lancarnya.
"Uhuk uhuk"
"Ya! Joongie, kenapa membahas itu di sini sih" kata Junsu dengan wajah memerahnya.
"Eh, memang Joongie salah ya, tapi Joongie ingin membahasnya sekarang, eeem, apa punya Chunnie appa sebesar itu Umma?" tanya Jaejoong lagi yang membuat orang di meja sebelahnya menengok ke arahnya, lagi.
Wajah Junsu kini semakin memerah, pikirannya sudah melayang kemana mana, selain menahan rasa malunya ada juga pikiran kotor tentang benda pusaka milik suaminya itu.
"Sudahlah Joongie, cepat habiskan es krimmu lalu kita belanja" kata Junsu mengalihkan pembicaraan.
"Ne Umma, oh ya, nanti kita beli boneka gajah ne" kata Jaejoong yang sukses membuat Junsu cegukan.
Sepertinya kata gajah sudah menjadi kata yang sakral untuk diucapkan, apalagi dibahas panjang lebar. Ya, setelah tadi Jaejoong membelokan arti dari belalai gajah itu menjadi barang pusaka milik para namja. Eh, bukankah dirinya dan Jaejoong juga namja, lalu kenapa dia malah membayangkan milik suaminya. Junsu merutuki kebodohan dirinya dan tentu saja ke frontalan calon menantunya itu.
"Eh, Umma sakit ne? Kalau begitu langsung pulang saja tidak apa-apa, nanti beli boneka gajahnya biar Joongie ajak Yunnie saja"
Cegukan Junsu malah semakin parah, oh Jaejoong bisakah kau tidak menyebut kata gajah lagi, kalau tidak mungkin saja calon Ummamu itu akan pingsan di tempat dengan sejuta fantasi liarnya.
T"idak-hik, apa-hik, apa-hik, joo-hik-ngie, nanti-hik, kita-hik, beli belalai-hik, mak-hik-sud Umma-hik boneka gajah" jawab Junsu sambil memegangi dadanya yang serasa sakit.
"Jinjja? Horeee" kata Jaejoong dengan bersemangatnya, lalu dengan cepat memakan es krimnya yang sangat banyak itu.
Sedangkan Junsu, dia sedang menenangkan dirinya sendiri dari cegukan yang menyiksanya kini sambil berharap Jaejoong tak mengucapkan kata gajah lagi.
Cukup lama mereka saling diam, Jaejoong yang sibuk dengan es krimnya dan Junsu yang sibuk dengan cegukannya. Jaejoong melirik Junsu sambil cemberut, Ia agak terganggu dengan cegukan Ummanya yang tak kunjung berhenti itu. Hingga sebuah ide gila muncul di otaknya.
"Umma, kalau boleh Joongie ingin main gajah-gajahan sama Yunnie" kata Jaejoong frontal.
"MWO!" kata Junsu yang langsung membuat cegukannya berhenti mendadak.
Cukup lama Jaejoong menunggu reaksi dari Junsu, sekaligus memastikan bahwa cegukannya memang benar-benar berhenti.
"Yessss, cegukan Umma berhenti, wah ide Joongie benar benar berhasil ne" kata Jaejoong dengan tanpa dosanya sambil meneruskan memakan es krimnya yang tinggal sedikit kini.
Cegukan Junsu memang berhenti, tapi jika saja Jaejoong tak mengatakan itu idenya untuk membuat cegukan Junsu berhenti, mungkin Junsu langsung terkena serangan jantung.
Ooh, maafkan kelakuan Jaejoong yang seenaknya ne.
***
Jaejoong kini sedang berdiri dengan wajah berbinar di depan sebuah boneka gajah yang super besar. Bahkan Ia melihatnya tanpa berkedip, oh sepertinya Jaejoong sangat terkesima dan menyukai boneka gajah berwarna abu abu itu.
"Kau suka Joongie?" tanya Junsu padanya.
Jaejoong hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari boneka gajah itu.
"Kita ambil kalau begitu" kata Junsu.
"Jinjja?" tanya Jaejoong sambil menatap Junsu dengan mata berbinarnya.
"Tentu saja, kajja kita bilang sama pelayannya untuk membungkusnya" kata Junsu sambil menyeret Jaejoong menjauh dari sana.
Jaejoong dan Junsu kini sedang bicara dengan salah satu pelayan toko boneka itu. Jaejoong menunjuk nunjuk boneka gajah besar yang terlihat sangat mencolok di sana. Tapi senyumnya memudar ketika seorang pelayan lain datang dengan yeoja kecil untuk mengambil bonekanya.
Jaejoong berjalan dengan cepat dengan wajah cemberutnya menuju ke arah boneka gajahnya.
"Ini boneka Joongie" kata Jaejoong.
"Ani, ini punya Yuri, Yuri sudah melihatnya dari kemarin" kata yeoja kecil bernama Yuri itu sambil melipat tangannya di dada.
"Ani, ini milik Joongie" kata Jaejoong dengan puppy eyesnya.
Junsu segera mendatangi Jaejoong karena melihat situasinya sudah semakin buruk. Bahkan beberapa orang mulai mengerubungi mereka.
"Sudahlah Joongie, nanti kita beli gajah yang lain" kata Junsu.
"Ani Suie Umma, boneka ini milik Joongie" kata Jaejoong yang tetap bersikeras bahwa boneka itu adalah miliknya.
"Mian, apa boneka ini masih ada lagi?" tanya Junsu pada pelayan tadi.
"Mianhae, boneka ini tinggal 1" jawab sang pelayan.
Junsu segera mengalihkan lagi pandangannya menuju ke arah Jaejoong dan Yuri yang saling memberikan tatapan maut. Oh, ayolah, apa hal ini perlu terjadi. Padahal Jaejoong sudah cukup dewasa, apa dia perlu mengintimidasi yeoja kecil yang baru berusia kira kira 6 tahun itu hanya untuk sebuah boneka gajah.
"Permisi, ada apa ini? Eh, Yuri, apa yang kau lakukan?" tanya seorang namja tampan sambil mensejajarkan tingginya dengan yeoja kecil bernama Yuri tadi.
"Appa, eonnie ini mencoba mengambil boneka gajah Yuri" adu yeoja kecil itu pada Appanya sambil menunjuk Jaejoong.
"MWO? Eonnie? Aku ini namja, adik kecil" kata Jaejoong sambil melipat kedua tangannya di dada.
Namja tadi segera melihat ke arah Jaejoong, dan dia diam beberapa saat, mungkin bukan beberapa saat, tapi malah cukup lama hingga akhirnya sebuah rengekan terdengar.
"Appaaaaa, pokoknya itu boneka milik Yuri" kata Yuri sambil menghentak hentakkan kakinya.
Namja tadi langsung menggendong Yuri dan segera berdiri. Dengan tinggi seperti ini dia dapat melihat Jaejoong yang tengah cemberut dengan lebih jelas.
"Mianhae, sebenarnya bagaimana ceritanya sampai kalian bisa berebut boneka?" tanya namja itu.
"Joongie yang pertama melihatnya, bahkan Joongie sudah akan membayarnya, tapi yeoja kecil ini datang dan mengambil boneka milik Joongie" kata Jaejoong menjelaskan, masih dengan raut sebalnya.
"Ooh, nah, Yuri, boneka ini milik namja ini, kan bukannya tadi Appa sudah membelikanmu boneka teddy bear yang sama besarnya, kau mengalah ne" kata namja tadi.
Yuri nampak makin kesal, tapi dia juga membenarkan apa yang dikatakan Jaejoong. Tadi sebenarnya Yuri sudah melihat Jaejoong terlebih dahulu di depan boneka gajah itu. Dan ketika Jaejoong dan Junsu pergi, Yuri pikir mereka tidak jadi mengambil boneka gajah itu dan Ia berinisiatif untuk membelinya tanpa bilang terlebih dahulu pada Appanya. Setelahnya Yuri menyuruh seorang pelayan untuk mengambilkan boneka itu untuknya. Tapi setelah itu Jaejoong datang dan menuding nuding kalau boneka itu miliknya.
"Ne, mianhae eonnie" kata Yuri yang masih menyebut Jaejoong dengan panggilan 'Eonnie'.
"Eh, panggil aku oppa" kata Jaejoong.
"Aniyo! Pokoknya Yuri akan tetap memanggil eonni" kata Yuri yang muncul lagi sifat keras kepalanya.
"Aiish terserah kau saja lah yang penting gajah ini milik Joongie" kata Jaejoong dengan cerianya.
"Appa, eonnie ini cantik sekali, jadikan dia Umma Yuri ne" kata Yuri yang langsung diberi tatapan terkejut oleh beberapa orang yang berada di sana. Soalnya Yuri mengatakannya dengan cukup keras, bahkan Jaejoong pun mendengarnya.
"Heh, aku sudah punya calon suami tahu" kata Jaejoong dengan tidak sopan.
"A-ah, mianhae kalau anakku bicara sembarangan, Choi Siwon" kata namja itu sambil mengulurkan tangannya pada Jaejoong.
"Kim Jaejoong" balas Jaejoong sambil menjabat tangan Siwon.
"Joongie, kita tunggu di sana saja ne, biar pelayan ini membungkuskan gajahmu dulu" kata Junsu.
"Ne Umma, oh, tolong ne bungkuskan gajah Joongie, cepat" kata Jaejoong pada pelayan tadi.
Sang pelayang segera mengambil gajah itu dan membawanya menuju ke meja dekat kasir. Junsu menyuruh Jaejoong untuk duduk sebentar karena Ia akan membayar boneka gajah super besar milik Jaejoong.
Jaejoong menunggu dengan sabar sambil memainkan ponsel berlogo buah buahan itu. Bibirnya terus menyunggingkan senyum yang sangat manis tak kala dilihatnya foto foto mesranya dengan Yunho. Demi apapun di dunia ini Jaejoong sangat mencintai namja tampan itu.
"Joongie" panggil Junsu dari arah kasir.
Jaejoong segera mendongak dan memasukkan ponselnya itu lalu mendekat ke arah Junsu dan boneka gajah super besarnya.
"Bawa gajahmu ini ne, Umma tak kuat" kata Junsu pada Jaejoong.
Jaejoong nampak sangat senang sambil beranjak membopong boneka gajah besar miliknya. Ah, beruntung sekali kau Kim Jaejoong, apapun yang kau mau selalu kau dapatkan. Bahkan calon Umma mertuamu tampak selalu mementingkan keinginanmu walaupun sikapmu kadang terlalu kekanakan dan suka sekali membuat onar.
"Umma, Joongie menginap di rumah Umma ne, Joongie malas pulang" kata Jaejoong sambil berjalan membawa bonekanya.
"Tapi minta ijin dulu sama Ummamu, nanti dia bisa marah marah lagi padaku karena tak membawamu pulang ke rumahmu sendiri" kata Junsu.
"Ne, nanti pas sampai di rumah, Joongie akan telepon Umma" jawab Jaejoong.
"Anak baik" kata Junsu sambil tersenyum melihat tingkah Jaejoong yang sangat lucu ini.
***
Sesampainya di mobil, Jaejoong langsung memasukkan boneka gajahnya itu terlebih dahulu baru memasukkan dirinya sendiri. Tapi saat Ia akan menutup pintu mobilnya, seseorang nampak menahan pintu mobil itu. Jaejoong nampak kesal dan segera keluar dari mobil untuk melihat siapa yang berani-beraninya mengganggunya.
"Eh, Siwon~ssi" kata Jaejoong sambil mengerutkan keningnya.
"Mianhae kalau aku mengganggumu, tapi Yuri ingin sekali bertemu denganmu lagi, bolehkah aku tahu alamat rumahmu?" kata Siwon.
Jaejoong semakin menegerutkan keningnya, yeoja kecil itu masih ingin bertemu dengannya. Padahal dirinya sangat malas sekali bertemu dengannya, terutama setelah insiden tadi. Jaejoong saja masih mengibarkan bendera perang, lalu yeoja kecil itu malah seperti ini mengajaknya berdamai.
"Ayolah, anakku tak pernah sesenang ini saat bertemu seseorang, jadi bisakah?" kata Siwon lagi meyakinkan karena dia melihat keraguan dari raut wajah Jaejoong.
"Emm, baiklah"
Siwon langsung tersenyum lega setelah mendapat lampu hijau dari Jaejoong. Setelahnya Jaejoong memberikan ponselnya pada Siwon.
"Ketik nomormu di sana, nanti aku akan mengirimu alamat lengkapku" kata Jaejoong.
"Aah ne"
Siwon dengan segera mengetikkan nomornya di sana. Jaejoong hanya mengamati bagaimana namja yang kira kira berusia tak jauh beda dari Yunho itu nampak senang saat mengetikkan nomornya di ponsel miliknya. Jaejoong jadi berpikir, sebenarnya yang ingin bertemu dengannya lagi anaknya atau dirinya sendiri.
"Ini, gomawo ne Jaejoong~ssi" kata Siwon.
"Ne, cheonmaneyo" kata Jaejoong sambil mengambil lagi ponselnya.
"Joongie, kajja kita pulang, Yunho sudah menghubungi Umma terus"
"Ne Suie Umma, eem Siwon~ssi sepertinya aku harus pergi, annyeong" kata Jaejoong sambil tersenyum amat sangat manis.
"A-ah ne, annyeong" kata Siwon.
Jaejoong segera masuk ke dalam mobil milik Junsu. Dan dengan cepat Junsu melajukan mobilnya menuju ke rumah.
"Kenapa kau mau memberikan alamatmu Joongie?" tanya Junsu yang tadi sempat menguping pembicaraan antara Jaejoong dan Siwon.
"Joongie tak berniat memberikan alamat asli Joongie padanya Umma, tapi Joongie akan memberikan alamat rumah Umma padanya" kata Jaejoong.
"Eh, tapi Umma tak mau ikut-ikut kalau nanti Yunho tahu dan mengamuk" balas Junsu.
"Tenang saja Umma, Joongie janji semuanya akan aman, Joongie hanya ingin memberi pelajaran pada namja itu supaya tak mengganggu orang yang sudah berpasangan, apalagi dengan mengatas namakan anaknya" kata Jaejoong sambil mengetikkan pesan singkat untuk Siwon, tentu saja memberikan alamat rumah yang Ia janjikan tadi.
Junsu hanya geleng geleng kepala menghadapi calon menantunya itu. Tapi dia juga senang, ternyata Jaejoong sangat setia pada Yunho hingga mau memberi pelajaran pada orang yang berniat menggodanya.
Jadi tak salah kan kalau Junsu sangat menyayangi Jaejoong.
"Eh, Siwon~ssi" kata Jaejoong sambil mengerutkan keningnya.
"Mianhae kalau aku mengganggumu, tapi Yuri ingin sekali bertemu denganmu lagi, bolehkah aku tahu alamat rumahmu?" kata Siwon.
Jaejoong semakin menegerutkan keningnya, yeoja kecil itu masih ingin bertemu dengannya. Padahal dirinya sangat malas sekali bertemu dengannya, terutama setelah insiden tadi. Jaejoong saja masih mengibarkan bendera perang, lalu yeoja kecil itu malah seperti ini mengajaknya berdamai.
"Ayolah, anakku tak pernah sesenang ini saat bertemu seseorang, jadi bisakah?" kata Siwon lagi meyakinkan karena dia melihat keraguan dari raut wajah Jaejoong.
"Emm, baiklah"
Siwon langsung tersenyum lega setelah mendapat lampu hijau dari Jaejoong. Setelahnya Jaejoong memberikan ponselnya pada Siwon.
"Ketik nomormu di sana, nanti aku akan mengirimu alamat lengkapku" kata Jaejoong.
"Aah ne"
Siwon dengan segera mengetikkan nomornya di sana. Jaejoong hanya mengamati bagaimana namja yang kira kira berusia tak jauh beda dari Yunho itu nampak senang saat mengetikkan nomornya di ponsel miliknya. Jaejoong jadi berpikir, sebenarnya yang ingin bertemu dengannya lagi anaknya atau dirinya sendiri.
"Ini, gomawo ne Jaejoong~ssi" kata Siwon.
"Ne, cheonmaneyo" kata Jaejoong sambil mengambil lagi ponselnya.
"Joongie, kajja kita pulang, Yunho sudah menghubungi Umma terus"
"Ne Suie Umma, eem Siwon~ssi sepertinya aku harus pergi, annyeong" kata Jaejoong sambil tersenyum amat sangat manis.
"A-ah ne, annyeong" kata Siwon.
Jaejoong segera masuk ke dalam mobil milik Junsu. Dan dengan cepat Junsu melajukan mobilnya menuju ke rumah.
"Kenapa kau mau memberikan alamatmu Joongie?" tanya Junsu yang tadi sempat menguping pembicaraan antara Jaejoong dan Siwon.
"Joongie tak berniat memberikan alamat asli Joongie padanya Umma, tapi Joongie akan memberikan alamat rumah Umma padanya" kata Jaejoong.
"Eh, tapi Umma tak mau ikut-ikut kalau nanti Yunho tahu dan mengamuk" balas Junsu.
"Tenang saja Umma, Joongie janji semuanya akan aman, Joongie hanya ingin memberi pelajaran pada namja itu supaya tak mengganggu orang yang sudah berpasangan, apalagi dengan mengatas namakan anaknya" kata Jaejoong sambil mengetikkan pesan singkat untuk Siwon, tentu saja memberikan alamat rumah yang Ia janjikan tadi.
Junsu hanya geleng geleng kepala menghadapi calon menantunya itu. Tapi dia juga senang, ternyata Jaejoong sangat setia pada Yunho hingga mau memberi pelajaran pada orang yang berniat menggodanya.
Jadi tak salah kan kalau Junsu sangat menyayangi Jaejoong.
***
Di sisi lain Siwon nampak sangat senang ketika menerima pesan singkat dari Jaejoong. Yuri nampak heran melihat Appanya yang sangat aneh ini, terutama sejak tadi bertemu dengan namja cantik di toko boneka tadi.
"Yuri, kau akan dapat Umma baru" kata Siwon.
"Jinjja? Siapa Umma baru Yuri nanti" tanya Yuri.
"Eonnie cantik tadi. Yuri mau kan?"
"Jinjjayo, Yuri mau sekali Appa" kata Yuri menanggapi.
Ah, sepertinya Siwon tak tahu apa yang sudah direncanakan oleh namja cantik yang sudah meluluhkan hatinya tadi. Jadi siap siaplah untuk patah hati Choi Siwon, karena namja cantik ini sangat setia pada beruangnya yang tampan itu.
-TBC-
0 komentar:
Posting Komentar