*ganti
summary* : Dia namja yang cantik, tapi kelakuannya selalu membuat
pusing orang lain. Sifatnya manja tapi hobinya membuat kerusuhan hingga
akhirnya kekasih tampannya memberinya pelajaran penting yang akan
membuatnya sadar
Chapter : 4
Keesokan
paginya Yunho sudah bersiap didalam mobilnya sembari menunggu Jaejoong
keluar dari rumah. Beberapa kali Yunho menengok ke arah arlojinya,
sekedar untuk tahu sudah berapa lama Ia menunggu. Tak lama pintu besar
berwarna coklat tua itu pun terbuka dan menampakkan Jaejoong dengan
balutan seragam sekolahnya. Senyum Yunho terpencar begitu saja ketika
melihat Jaejoong yang berjalan dengan cepat menuju ke arahnya sekarang.
Jaejoong segera membuka pintu mobil Yunho.
"Annyeong Boo" sapa Yunho saat dilihatnya Jaejoong sudah duduk di sisinya.
"Annyeong Yunnie, kajja berangkat, Joongie sudah tidak sabar" kata Jaejoong.
Tidak
sabar untuk pertemuan yang menentukan apa hukuman yang pantas untuknya?
Itu tidak masuk akal kan. Mana ada orang yang senang ketika menerima
hukuman. Yunho pun hanya mengerutkan keningnya heran pada namja di
sampingnya ini. Sungguh namja yang sangat sulit ditebak jalan
pikirannya, pikir Yunho.
Tanpa perlu banyak berpikir lagi Yunho
segera mengambil kacamatanya yang berada di dashbord mobil dan dengan
perlahan melajukan mobilnya menembus ramainya jalanan kota Seoul pagi
ini.
"Yunnie nanti ada kuliah tidak?" tanya Jaejoong memecah keheningan diantara mereka.
"Eem, sepertinya tidak ada, wae?" jawab Yunho.
"Aniya hanya bertanya saja" kata Jaejoong setelahnya.
Yunho hanya tersenyum menanggapinya lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya di jalanan yang semakin ramai ini.
Sekitar
setengah jam berkendara, mobil Yunho pun berhenti di parkiran sekolah
yang sudah ramai oleh para siswa dan siswi. Yunho segera turun dari
mobilnya dan membukakan pintu untuk Jaejoong. Senyum Jaejoong langsung
merekah melihat Yunho yang begitu perhatian padanya.
Tatapan siswa
dan siswi kini pun beralih pada mereka, terlebih pada sosok yang kini
bersama dengan Jaejoong ini. Tentu saja masih banyak yang belum tahu
siapa dia dan apa hubungannya dengan Jaejoong.
Jaejoong yang sadar
pandangan semua orang yang kini tertuju pada mereka malah semakin
tersenyum lebar, ini salah satu yang dia mau kan. Menunjukkan kepada
semua orang tentang siapa orang yang berhasil dia dapatkan. Hoo,
Jaejoong berniat menyombong ternyata. Dengan cepat di sambarnya lengan
Yunho dan digelayutinya dengan mesra membuat Yunho kembali mengerutkan
keningnya heran.
"Joongie ini di sekolah" kata Yunho menasehati.
"Joongie tak peduli, lagipula tak akan ada yang berani protes kok" jawab Jaejoong dengan santainya.
"Terserah kau saja lah" kata Yunho dan mereka pun mulai berjalan menuju ke ruang guru.
Yunho
dan Jaejoong berjalan melewati beberapa gerombolan namja dan yeoja yang
langsung menatap mereka intens. Selain karena adanya sosok Yunho yang
begitu mempesona tapi mereka juga memperhatikan Jaejoong yang nampak tak
mau lepas dari Yunho.
"Hei hei hei, bukannya itu Kim Jaejoong kan" kata salah seorang yeoja.
"Ne, dia pasti Jaejoong, di sekolah ini mana ada yang seberani itu" kata yeoja lainnya lagi.
"Kalau aku jadi Jaejoong, aku juga tidak akan melepaskan peganganku pada namja itu, takut kalau hilang" kata yeoja lainnya lagi.
"Tapi namja itu memang tampan, aah ani tapi sangat tampan, eemm, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?"
"Haaaa!!!" teriak seorang yeoja lain lagi.
"Wae?"
"Aku
baru ingat, dia itu Jung Yunho, anak salah satu rekan bisnis Appaku,
keluarga mereka sangat dihormati dan disegani, bahkan Appanya yaitu Jung
Yoochun termasuk dalam salah satu orang terkaya di Korea" jelas yeoja
itu lagi.
"Wow, tak kusangka Jaejoong bersamanya, tapi untuk apa Yunho kemari?"
"Apa
kau tak tahu kalau kemarin Jaejoong dipanggil Kim Sonsaengnim soal
kasusnya, mungkin saja Yunho itu mewakili keluarga Jaejoong" jelasnya
lagi.
"Tapi apa hubungan mereka, kenapa harus Yunho yang menghadiri pertemuan itu"
"Tak tahu, mungkin saja mereka sebenarnya bersaudara"
"Aaah itu tidak mungkin, kau lihat kan tadi betapa mesranya mereka, mungkin saja mereka berpacaran"
"Tidak mungkin aah, mana mau seorang milyuner seperti Jung Yunho mau dengan Kim Jaejoong si namja pembuat onar"
"Kalian membicarakan apa sih?" tanya seorang namja tinggi yang sejak tadi sebenarnya menguping pembicaraan mereka.
"Oh Minnie" sapa seorang yeoja dan langsung diberi tatapan mata tajam nan menusuk dari namja itu.
"Jess, Changmin itu tidak suka di panggil dengan nama itu" kata salah seorang yeoja pada Jessica.
"Tapi Jaejoong sering memanggilnya begitu"
"Jaejoong hyung memanggilku begitu karena dia bodoh" kesal Changmin sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Mood
Changmin benar benar buruk hari ini, tapi tetap saja tidak membuat
yeoja yeoja penggosip itu berhenti memanggilnya 'Minnie'.
"Padahal nama itu cocok denganmu Minnie" kata Jessica.
"Diamlah!!!" kata Changmin final.
"Kalian tadi membicarakan apa?" tanya Changmin setelah mereka diam tak terlalu lama.
"Kami sedang membicarakan Jaejoong dan namja yang bernama Yunho itu, mereka terlihat punya suatu hubungan" kata Jessica.
"Ohh, Yunho hyung, mereka kan sudah berpacaran cukup lama dan kata Jae hyung sih mereka akan segera bertunangan" kata Changmin.
"MWO!!!"
"Tidak mungkin aah, mana mau Yunho dengan si pembuat onar itu"
"Buktinya
mereka bersama kan, sudahlah kalian tak usah membicarakannya, karena
nanti akan membuat namja cantik itu besar kepala" kata Changmin lalu
beranjak pergi meninggalkan para yeoja penggosip itu.
'Pasti Jaejoong sengaja melakukan ini, dasar namja itu, selalu saja ingin pamer' batin Changmin.
"Joongie, lepaskan dulu tanganku ne, tidak enak kalau dilihat Songsaengnimmu itu" kata Yunho menasehati lagi.
"Joongie tidak peduli" kata Jaejoong final.
Yunho
menghembuskan nafasnya berat lalu melepas kacamatanya dan masuk ke
dalam ruang songsaeng bersama dengan Jaejoong yang masih bergelayutan di
lengannya. Mau tak mau mereka langsung menjadi sorotan dari para
songsaeng yang tadinya tengah sibuk mempersiapkan pelajaran untuk hari
ini itu. Yunho hanya tersenyum dan berharap mereka memaklumi tingkah
Jaejoong ini.
"Annyeong Kim Heechul Songsaengnim, ini Jung Yunho
yang akan menjadi waliku" jelas Jaejoong, namun sepertinya tak akan
dijawab dengan cepat oleh Heechul. Karena sekarang Heechul menatap tak
berkedip pada sosok namja yang dikenalkan oleh Jaejoong tadi. Melihat
hal itu Jaejoong hanya tersenyum tipis.
'Seperti yang kuduga' batin Jaejoong.
"Kim Songsaengnim" ulang Jaejoong.
"Aah ne silakan kalian duduk" kata Heechul dengan gugup.
'Sial!
Anak ini selalu saja membuat masalah, bagaimana bisa aku mengadukannya
kalau jantungku saja tak bisa berdetak normal' batin Heechul merutuk
Jaejoong.
"Jung Yunho" kata Yunho mengulurkan tangannya pada Heechul.
"Kim Heechul" balas Heechul setelah berhasil menjabat tangan Yunho itu.
Heechul
segera melirik Jaejoong yang malah senyum senyum sendiri itu sambil
memandang dirinya. Rasanya Heechul ingin membentaknya sekarang juga,
tapi melihat ada sosok lain yang dihadapannya kini membuat Heechul
mencoba meredam emosinya. Jaga wibawa, batin Heechul.
"Emm begini
Yunho~ssi, sebelum saya membicarakan hal yang telah Jaejoong lakukan
bolehkah saya tahu apa hubungan anda dan Kim Jaejoong?" tanya Heechul
setelah berhasil menetralkan degupan jantungnya.
"Apakah masalahnya terlalu berat Heechul~ssi?"
"Ya setidaknya Kim Jaejoong akan diberi pelajaran dengan benar Yunho~ssi" jelas Heechul.
"Oh,
sebenarnya saya ini masih berstatus sebagai kekasihnya Heechul~ssi,
tapi tenang saja dia ada ditangan yang tepat karena setelah lulus nanti
Jaejoong akan segera menjadi bagian dari keluarga kami" jelas Yunho
sambil tersenyum.
"Uhuk uhuk uhuk" Yunho dan Jaejoong segera melihat ke belakang ketika mendengar suara batuk yang cukup keras itu.
"O-oh kalau begitu saya harap anda bisa mengajari Jaejoong bagaimana cara bersikap ne Yunho~ssi" kata Heechul.
"Apakah ada hubungannya dengan sikap manja Jaejoong?" tanya Yunho.
"Eem,
mungkin ini lebih dari bersikap manja Yunho~ssi, kami sudah kerap kali
memergoki dia menjahili pihak sekolah lain, mengadu domba antar sekolah,
dan yang terakhir dia membuat beberapa anak dikeluarkan dari
sekolahnya, kami bisa saja mengelurkan Jaejoong tapi melihat Appanya
adalah salah satu penyumbang dana terbesar di sekolah ini, maka kami
juga tidak bisa apa-apa kecuali menyerahkannya ke pihak keluarga untuk
diberi pelajaran" jelas Heechul dan langsung membuat Yunho melirik ke
arah Jaejoong yang nampak tak berdosa.
"Apakah benar kau melakukan itu semua Jae?" tanya Yunho.
"Ne, Joongie melakukannya karena iseng saja" kata Jaejoong dengan santainya.
"Mianhae Heechul~ssi, saya juga baru tahu kalau ternyata kelakuan Jaejoong jadi seburuk itu" kata Yunho.
"Kelakuan Joongie tidak buruk Yunnie" sanggah Jaejoong.
"Diam dulu Jae, aku sedang bicara dengan Heechul~ssi!" kata Yunho sedikit membentak dan langsung membuat Jaejoong merengut.
"Anda
bisa lihat sendiri kan, maka dari itu kami ingin anda bisa membuat
Jaejoong setidaknya memperbaiki kelakuannya selama bersekolah di sini"
jelas Heechul sambil melirik Jaejoong.
"Saya akan berusaha membuatnya berubah Heechul~ssi" kata Yunho dengan nada yang terdengar kecewa sekarang.
Jaejoong
menyadari perubahan raut wajah serta nada bicara Yunho, tapi dia tak
peduli, toh Yunho sudah berani membentaknya. Dan itu adalah salah satu
hal yang paling tak disukai oleh Jaejoong.
"Baiklah, kalau begitu saya bisa mempercayakan Jaejoong pada anda Yunho~ssi" kata Heechul dengan tersenyum.
"Ne Heechul~ssi, saya akan berusaha sebaik mungkin" kata Yunho.
"Nah sepertinya masalahnya sudah selesai, Kim Jaejoong kau bisa ke kelasmu sekarang" kata Heechul.
"Joongie tidak mau sekolah lagi" kata Jaejoong dengan ketus dan meninggalkan ruangan guru itu.
"Joongie" panggil Yunho tapi tidak dihiraukan oleh Jaejoong.
"Mianhae
Heechul~ssi, saya permisi dulu mau mengejar Jaejoong" kata Yunho lalu
segera meninggalkan ruangan itu untuk mengejar Jaejoong yang pastinya
belum terlalu jauh dari sana.
Yunho melihat Jaejoong yang tengah berlari di antara lorong lorong koridor kelas yang belum sepenuhnya sepi.
"Dasar anak itu" kata Yunho lalu mulai berlari mengejar Jaejoong.
Mengejar
Jaejoong itu bukan perkara yang mudah, Jaejoong dikenal cukup cepat
dalam berlari. Tapi dalam keadaan lorong yang belum sepi kecepatan
berlari Jaejoong pasti akan sedikit menurun. Keuntungan bagi Yunho kan,
karena sekarang dia sudah ada di belakang Jaejoong. Dengan sekali
tarikan Jaejoong kini sudah berada dalam kungkungan Yunho.
"Kenapa kau seperti ini Jae?" tanya Yunho.
"Joongie benci pada Yunnie" kata Jaejoong.
"Apa
alasannya Joongie? Apa selama ini aku masih kurang memperhatikanmu
hnng?" tanya Yunho dengan lembut, mencoba mencairkan suasana yang agak
beku ini.
"Yunnie membentak Joongie tadi, Joongie benci, Joongie tidak suka dibentak" kata Jaejoong.
"Kalau
kau tak suka dibentak, lalu kenapa kau sering membentak orang lain Jae?
Kau suka mengganggu orang lain yang tak pernah berbuat salah padamu.
Apa yang kau dapat dari itu semua hngg? Kalau kau seperti itu terus bisa
saja akan berimbas pada orang yang kau sayangi, bisa saja orang orang
itu akan balas dendam dengan melukaiku" kata Yunho.
Jaejoong hanya
diam dan mencoba mencari celah dari situasi yang tak disukainya ini,
bahkan Ia terus mengalihkan pandangannya agar tak menatap mata Yunho
sekarang.
"Kenapa diam Jung Jaejoong? Kau mau aku marah padamu?" tanya Yunho yang langsung membuat Jaejoong menatap ke arahnya.
"Joongie tidak suka ditekan" lirih Jaejoong.
Yunho menghela nafasnya berat.
"Lebih
baik kau masuk ke kelasmu sekarang Boo, masalah ini kita bicarakan
nanti" kata Yunho lalu melepaskan kungkungannya pada Jaejoong.
Tanpa
banyak bicara lagi Yunho langsung menarik pergelangan tangan Jaejoong
dan menggandengnya, Ia bermaksud untuk mengantarkan Jaejoong ke
kelasnya. Yah, Yunho cukup khawatir karena nanti Jaejoong malah berbuat
onar lagi jika tidak dalam pengawasannya.
"Dimana kelasmu Joongie?" tanya Yunho.
"Lantai 3 Yun" kata Jaejoong.
Yunho
segera menyeret Jaejoong naik ke lantai 3 tempat dimana kelasnya
berada. Tatapan mata yang sejak tadi melihat mereka pun kini masih
menyertai kemana langkah dua insan manusia itu berjalan. Hingga mereka
naik ke lantai 3 pun masih banyak yang melihat.
"Nah belajar yang rajin ne Joongie" kata Yunho setelah mereka sampai di depan kelas Jaejoong.
"Emm" angguk Jaejoong tak bersemangat.
Yunho
tersenyum lalu segera beranjak pergi meninggalkan Jaejoong yang masih
melihatnya tanpa berniat segera pergi masuk ke dalam kelasnya. Setelah
sampai di bawah senyum Yunho menghilang begitu saja, Jaejoongnya memang
benar benar harus diberi pelajaran. Apalagi setelah tahu kalau ternyata
kelakuan Jaejoong semakin buruk. Sikap diamnya selama ini dianggap
Jaejoong bukan masalah hingga namja cantik itu malah semakin menjadi.
"Yunho hyung" panggil Changmin.
"Eh Minnie, kenapa tak masuk kelas?"
Minnie.
Lagi lagi Changmin dipanggil dengan nama itu. Padahal dia sudah cukup
sering meralat kalau namanya adalah Shim Changmin dan nama panggilannya
adalah Changmin. Kalau bukan karena Kim Jaejoong, pasti panggilan aneh
itu tidak akan bersarang padanya.
"Changmin, panggil aku Changmin, hyung" kata Changmin meralat.
"Ne, ne, kenapa kau ada di luar kelas Min?" tanya Yunho.
"Aku sedang bebas tugas hari ini Yunho hyung" kata Changmin.
"Seperti pegawai kantoran saja kau Min, oh ya ada perlu apa tadi memanggilku"
"Tidak ada hanya ingin menyapamu saja hyung"
"Ku kira ada apa, yasudah Min aku masih ada urusan penting setelah ini, aku pulang dulu ne" kata Yunho pada Changmin.
"Ne hati hati hyung" kata Changmin.
Yunho
mengangguk dan segera beranjak meninggalkan Changmin yang masih setia
menatapnya. Tanpa menengok ke belakang lagi Yunho segera melesat menuju
ke mobilnya yang masih terparkir rapi di halaman sekolah ini.
Yunho
hendak membuka pintu mobilnya ketika sebuah tepukan singkat mendarat di
pundaknya. Dengan cepat Yunho berbalik dan mendapati Changmin sedang
menyeringai di hadapannya kini.
"Wae Min?" tanya Yunho.
"Hyung, sepertinya ada yang perlu kita bicarakan, tentang Jaejoong hyung" kata Changmin.
"Emm, kalau begitu masuklah" kata Yunho.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil sekarang.
"Nah apa yang mau kau bicarakan Min?" tanya Yunho.
"Jadi
begini hyung, kau sepertinya akan butuh banyak bantuan untuk memberi
pelajaran pada Jae hyung" kata Changmin seolah membaca isi pikiran Yunho
sejak tadi.
"Ne, aku memang butuh bantuan tapi aku juga punya rencana untuknya" kata Yunho.
"Boleh aku tahu hyung, sepertinya aku juga punya ide menarik untuk membuat Jae hyung berubah" kata Changmin.
"Oke sepertinya aku memang butuh bantuanmu, jadi rencanaku begini . . . ."
Yunho
langsung menjelaskan rencana yang sudah dia pikirkan sejak kemarin,
Changmin mendengarkannya sambil ikut menanggapi. Hingga akhirnya kini
bagian Changmin yang menjelaskan rencananya, Yunho nampak kembali
tersenyum. Sepertinya rencananya kali ini akan semakin matang dengan
bantuan Changmin.
"Tak sia sia Tuhan memberimu otak jenius Min" kata Yunho.
"Tuhan kan memang baik padaku" kata Changmin.
"Baik jadi sekarang kita kemana?" tanya Yunho.
"Ikuti saja instruksiku hyung" jawab Changmin.
"Baiklah, saatnya berangkat" kata Yunho.
Yunho
baru saja memarkir mobilnya di garasi rumahnya. Setelahnya dia masuk ke
dalam rumah dan mendapati sang Umma yaitu Junsu sedang menyeret sebuah
koper yang tak terlalu besar. Yunho langsung tersenyum dan memeluk Junsu
dengan sangat erat.
"Ya!!! Yun, kau mau membuat Ummamu ini mati muda" kata Junsu dan Yunho langsung melepaskan pelukannya.
"Ani hanya ingin memelukmu saja Ummaku sayang" kata Yunho lalu beranjak meninggalkan Junsu.
"Kau
senang karena Ummamu ini akan pergi kan, dasar anak nakal" kata Junsu
dengan kesal lalu kembali menyeret kopernya meninggalkan rumahnya
sendiri.
Yunho mendengarnya tapi dia hanya menengok sebentar ke arah Junsu lalu pergi menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
"Saatnya memulai permainan baru" kata Yunho lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Drrt Drrt
Yunho
mengambil ponselnya yang berada di saku kemejanya. Dilihatnya nama Boo
Jae Joongie di sana. Ya sebuah pesan singkat dari Jaejoong untuknya.
From : Boo Jae Joongie
Yunnie jangan lupa jemput aku jam 2 ne
Yunho
segera mengetik balasan pesan untuk Jaejoong, lagipula tanpa perlu
Jaejoong mengingatkan pun Yunho tahu kapan waktunya untuk menjemput
namja tersayangnya itu.
To : Boo Jae Joongie
Ne Boo, tenang saja aku ingat kok
Sent!
Yunho langsung meletakkan ponselnya di meja nakasnya dan mulai mempersiapkan diri.
***
Pukul
setengah 2 siang Yunho sudah bersiap di dalam mobilnya untuk menjemput
Jaejoong. Tapi sebelum Ia melajukan mobilnya, Ia mengirimi sebuah pesan
singkat untuk seseorang di seberang sana. Dan ketika pesan itu terkirim
senyum Yunho kembali terukir.
"Saatnya menjemput Joongie" kata Yunho setelah menaruh ponselnya ke dalam saku kemejanya.
Sekitar
pukul 2 kurang 5 menit Yunho sudah sampai di parkiran sekolah Jaejoong.
Dengan sabar Ia menunggu Jaejoong keluar dari kelasnya. Tak lama sebuah
bunyi bel terdengar cukup keras menandakan kalau pelajaran hari itu
telah usai.
Jaejoong nampak yang paling pertama terlihat dari para
murid yang berada di lantai 3. Wajahnya tak lagi semuram tadi, tapi
sedikit lebih baik. Sikap centilnya masih sama, bahkan sikap sombongnya
juga amat terlihat.
"Yunnie" kata Jaejoong saat dirinya sudah membuka pintu mobil mewah milik Yunho.
"Masuklah Jae" kata Yunho.
Jaejoong segera masuk dan duduk dengan nyaman di samping Yunho. Kemudian Yunho langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
"Yunnie, Joongie minta maaf ne" kata Jaejoong.
"Minta maaf untuk?" tanya Yunho.
"Marah sama Yunnie" kata Jaejoong.
Yunho
hanya geleng geleng kepala mendengar penuturan Jaejoong baru saja,
kenapa dia malah minta maaf untuk hal yang tak penting. Bukannya banyak
hal penting yang bisa Ia katakan, misalnya saja untuk mencoba merubah
sikap. Tapi sepertinya Jaejoong tidak akan pernah mengatakan itu kalau
belum diberi pelajaran.
Setelah tadi berbincang cukup lama dengan
Changmin, akhirnya dia menyetujui untuk sedikit merubah rencana yang Ia
buat kemarin. Tak masalah untuknya yang penting Jaejoong bisa berubah,
itu yang Ia mau.
"Gwenchana Boo" jawab Yunho sambil melihat sekilas ke arah Jaejoong.
"Aah,
leganya, Joongie pikir Yunnie marah sama Joongie, kalau tahu begitu
Joongie tak perlu pusing memikirkannya kan" kata Jaejoong setelahnya.
Yunho tak menanggapi karena sudah cukup malas mengikuti arah pembicaraan Jaejoong yang masih belum sadar itu.
"Pelatih senammu jadi datang Boo?" tanya Yunho mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, tadi Joongie dihubungi kalau dia jadi datang, yaa sekitar jam 3 kurang sedikit lah Yunnie" jelas Jaejoong.
Yunho nampak melihat ke arah arlojinya, baru pukul 2 lebih 10 menit. Jadi masih banyak waktu untuk istirahat dulu kan.
"Baiklah, kalau begitu istirahat saja dulu Joongie" kata Yunho.
"Ne Yunnie" jawab Jaejoong dengan cepat.
Mereka
tak terlibat perbincangan lagi setelah itu, Yunho yang nampak fokus
menyetir dan Jaejoong yang nampak terlihat lelah. Keadaan ini
berlangsung sampai mereka tiba di rumah. Setelah memarkir mobilnya Yunho
segera keluar dan membukakan pintu untuk Jaejoong. Di biarkannya
Jaejoong yang terus bergelayut manja di lengannya.
"Joongie makan dulu ne sekarang" kata Yunho.
"Eum" kata Jaejoong sambil mengangguk.
Jaejoong
segera mendudukan dirinya di kursi dan mulai mengambil nasi serta lauk
pauk yang tersedia di meja, begitu pula dengan Yunho. Mereka berdua
nampak menikmati acara makan siang ini.
"Yunnie, Suie Umma kemana? Aku tak mendengar suaranya dari tadi"
"Sedang berlibur bersama Appa" jawab Yunho.
"Oooh, eeuum kapan kita berlibur Yunnie, Joongie lelah sekolah terus" kata Jaejoong.
"Nanti kalau sudah waktunya libur ne" kata Yunho.
'Ting tong ting tong'
Yunho
dan Jaejoong langsung menengok ke arah pintu utama ketika suara bel itu
terdengar dengan keras. Salah seorang maid nampak akan berjalan
membukakan pintu tapi Yunho menahannya.
"Biar aku saja"
Sang maid hanya membungkukan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Yunho.
Yunho
segera berjalan menuju ke pintu. Di bukanya dengan perlahan, tapi
ketika pintu besar itu terbuka kening Yunho langsung mengerut.
"Nuguseyo?" tanya Yunho.
"Naneun Choi Siwon imnida, Kim Jaejoongnya ada, aku sudah membuat janji" kata Siwon.
"Oooh,
pasti kau pelatih senam yang dibicarakan Joongie sejak kemarin, kajja
mari masuk" kata Yunho dan kini gantian kening Siwon yang mengerut.
Pelatih senam? Sepertinya namja ini salah orang, pikir Siwon.
"Aah tapi sepertinya kau-"
"Yunnie siapa yang datang?" suara Jaejoong nampak menyela perkataan Siwon.
"Ooh
Siwon~ssi" kata Jaejoong setelah dilihatnya Siwon tengah berdiri di
samping Yunho. Senyum Jaejoong terpencar ketika orang yang di tunggunya
sudah datang.
"Jaejoong~ah" kata Siwon ketika melihat senyum Jaejoong.
"Yunnie,
dia ini yang bernama Choi Siwon, dia yang Joongie maksud sebagai
pelatih senam Joongie" kata Jaejoong sambil merangkul Yunho.
Senyum
Siwon hilang begitu saja, kenapa Jaejoong malah mengenalkannya sebagai
pelatih senam. Padahal sudah sangat jelas Siwon ke sini bukan untuk
melatih Jaejoong senam, tapi karena Ia ingin mendapatkan hati namja
cantik itu untuk Ia jadikan Umma baru bagi Yuri.
"Tunggu dulu, pelatih senam, tapi-"
"-Oh ya Siwon~ssi, dia ini Jung Yunho, calon suamiku" kata Jaejoong lagi.
Belum
habis kekagetan Siwon karena dikenalkan sebagai pelatih senam, kini Ia
harus kembali terkejut karena mendengar Jaejoong mengenalkan namja yang
bernama Jung Yunho itu sebagai calon suaminya. Lalu untuk apa Jaejoong
seolah memberi lampu hijau padanya. Tentu saja untuk menjahilimu, itulah
yang pasti akan dikatakan Jaejoong jika dia tahu apa yang ada di benak
Siwon sekarang.
"Ahh Yunnie kajja temani Joongie ganti baju dulu,
oh ya Siwon~ssi kau bisa mempersiapkan diri di taman belakang" kata
Jaejoong memotong ucapan Siwon.
"Tapi-"
"Ahra" panggil Yunho.
Seorang yeoja dengan pakaian maid lengkap segera datang ke hadapan mereka setelah Yunho memanggilnya tadi.
"Ne, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong antarkan Siwon~ssi ke halaman belakang" kata Yunho.
"Oh ya jangan lupa tape recorder ne" lanjut Jaejoong.
"Ne" kata Ahra.
"Mari Siwon~ssi saya antar ke belakang" kata Ahra.
"Tunggu
Joongie di belakang ne Siwon~ssi" kata Jaejoong sambil tersenyum, dan
jelas senyum itu bukanlah senyum tulus, tapi senyum penuh kejahilannya.
"Jaejoong~ah" panggil Siwon tapi sepertinya namja cantik itu pura pura tak mendengarkan.
Oh
siap siap saja Choi Siwon, sekarang giliranmu merasakan kejahilan
seorang Kim Jaejoong. Jung Yunho saja bisa dia buat seperti kemarin
siang, pasti kau juga akan merasakan bagaimana dahsyatnya seorang Kim
Jaejoong membuat orang lain menderita. Karena memang itu adalah keahlian
Kim Jaejoong.
-TBC-
0 komentar:
Posting Komentar